Profil Agatho Elsenier : Pendiri BSB


Agatho Elsener terlahir dari buah cinta Carl Elsener dan Elisabeth Gut, di Scwyz Swiss, 15 Juli 1932. Ayahnya, Carl Elsener adalah pemilik pabrik pisau Victorinox. Terlahir dari keluarga kaya tidak membuatnya puas dan hidup dengan bersantai-santai.

Rela meninggalkan tanah kelahirannya, Swiss, putra ke 4 dari 6 bersaudara ini lebih memilih hidup di desa. “Orang tua mengajarkan saya untuk hidup sederhana. Kami tidak pernah bercita-cita menjadi orang kaya. Ayah menempa kami agar selalu kerja keras dan menolong sesama. Kalau tidak kerja berarti tidak makan.” 

Pastor dari biarawan Katolik ordo Fransiskan Capusin yang ditahbiskan tahun 1958 ini datang ke Indonesia tahun 1960 sebagai misionaris yang ditempatkan di Sanggau, pedalaman Kalimantan Barat. Datang ke Sanggau untuk mengabdikan diri dalam kegiatan pengembangan sosial ekonomi dan memberdayakan masyarakat suku Dayak. Disana beliau mendapat pertanyaan dari para petani tentang bagaimana bercocok tanam yang baik agar tanaman tidak dirusak oleh hama dan hasil pertanian tidak tergantung pestisida.

Tahun 1980 Pater Agatho Elsener pindah ke Jakarta setelah 20 tahun memimpin proyek pengembangan masyarakat Sanggau, Kalimantan Barat. Tahun 1982 pastor yang meninggalkan hobinya meluncur di papan ski demi pertanian organis ini dipindahtugaskan ke Semarang untuk membantu Romo G. Utomo Pr, sekretaris kantor pembangunan sosial ekonomi dari gereja. Perkenalannya dengan Romo G.Utomo Pr, membukakan jalan untuk membuka pertanian organis. Lewat salah satu bacaannya The One Straw Revolution (revolusi sebatang jerami) karya Masanobu Fukuoka, pastor merasa pertanian organis yang selama ini bermain di dalam angan-angannya itu harus segera diwujudkan. Terlebih di tahun 1983 sudah banyak petani yang mengeluh karena melambungnya harga pestisida.

Tahun 1983, pastur mulai mencari tempat untuk mewujudkan impiannya. Dia sempat mengobok-obok daerah Cibubur, Cipayung mencari tanah dengan ketinggian yang cukup untuk pertanian ternyata tidak mudah. Akhirnya pastor yang menjadi WNI sejak 1983 ini mendapatkan tanah subur di Cisarua, dengan ketinggian sekitar 1000 dpl. Tahap awal yang dilakukannya adalah mendirikan satu unit kerja atau unit pengembangan yang disebut dengan “unit pengembangan sayuran”. Karena pada dekade 80-an pemerintah sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan swasembada beras, sementara unit ini adalah unit pertanian yang tidak menggunakan sarana kimia maka rekomendasinya pun bukan dari Departemen Pertanian tapi dari Kementrian Lingkungan Hidup, sebuah situasi yang sangat dilematis saat itu.

Demi menjalankan cita-cita luhurnya Pater Agatho dibantu beberapa rekannya membangun sebuah yayasan yang bernama Yayasan Bina Sarana Bakti. Yayasan yang tidak hanya mengajarkan bertani secara organis melainkan juga mengajarkan manusia untuk bersikap organis, saling membantu dan tidak egois.

Setelah melihat pertanian organis yang dikelola pastor berhasil, semakin banyak orang yang ingin belajar mengenai sikap organis dan pertanian organis darinya.