Berita Dari Opini

SEMBAKO MURAH : SIAPA RUGI ?


Sembilan bahan pokok (Sembako) sering menjadi tolok ukur kemakmuran sebuah bangsa. Oleh karena itu, sebelum Indonesia merdeka, sembako menjadi penting dan target pencapaian prestasi bangsa. Sembako murah menjadi cita-cita pemimpin bangsa.
          Dalam abad “post modern”, sembako murah tidak serta menjadi tolok ukur prestasi, karena aspek pendidikan, kesehatan sudah berubah menjadi bisnis komersial (bukan aspek sosial). Ketika ongkos pendidikan dan kesehatan mahal sedangkan sembako dibuat murah, maka petani menjadi sulit kehidupannya. Kebijakan sembako murah harus mempertimbangkan segala aspek yang berkembang pada pihak yang terkena dampaknya. Apalagi Indonesia sebagai Negara Agraris, tidak cukup dengan BPJS & Kartu Pintar/Sehat.
 
Sembako Murah
          Sembako bersumber dari pertanian, sebagian besar pengadaannya dilakukan petani, kecuali terigu 100% import. Apabila saprodi (pupuk, obat, dll) naik harganya, tuntutan upah pekerja naik tapi penjualan sembako dibuat murah, siapakan yang menanggung kerugiannya ? Bagaimana petani bisa bertahan hidup dengan kondisi seperti itu ? Lalu dengan cara apa bisa mendorong generasi muda cinta pertanian ? Apakah mungkin petani bertahan dengan sembako murah ?
          Kebijakan ini harus diikuti kebijakan yang berpihak pada petani, umpama : kenaikan HPP, pendidikan pertanian murah, asuransi petani bahkan dana pensiun petani (semi PNS). Tanpa adanya perlindungan terhadap kehidupan petani, kebijakan sembako murah hanya menambah beban dan kesengsaraan petani. Dan Negara Agraris Guavadis ! (dr) 

Artikel Terkait
comments powered by Disqus