Berita Dari Opini

Nilai Organis: Hubungan Yang Adil Petani & Konsumen


     Sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, rasanya belum ada kebijakan pemerintah yang menempatkan petani sebagai “Raja”, tetapi sudah ada sebelumnya slogan “Pembeli Adalah Raja”, petani masih menempati posisi yang paling rendah dalam dunia perdagangan, dibawah pedagang dan pengepul / tengkulak. Posisi ini sangat rentan dalam ketidak adilan serta ketidakberdayaan. Mengapa? Sistem organisasi petani yang lemah, juga sistem monokultur konvensional yang begitu mengakar mengakibatkan nilai jual produksi petani yang murah. Hubungan yang tidak adil inilah yang berdampak pada nasib petani yang sengsara permanent.
     Sejak abad 15, dimana gagasan pertanian organis mulai diterapkan, dengan mendorong asas selaras alam dan kemandirian petani yang kemudian pada abad 20 tercetus hak-hak petani, perhatian dengan gagasan pasar alternatif seperti Teikei di Jepang, Jong Dong di Korea, dan Fair Trade di Eropa, tanda-tanda perbaikan nasib petani menemui titik terang dan harapan baru. Tahun 1985, YBSB menggagas pemasaran sistem “direct selling” yang dibangun berlandaskan asas : keterbukaan, kejujuran, kepercayaan dan mengutamakan “Pendidikan Konsumen” dengan pola kemitraan agen telah membawa angin segar bagi petani.
     Tahun 2000, BSB semakin yakin sistem ini memberi peluang petani bernasib lebih baik sehingga dibangunlah kemitraan produsen (Petani). Pemikiran membangun hubungan petani-BSB–konsumen yan adil telah diperaktekkan oleh BSB dengan asas penetapan harga yang adil berbasis ongkos produksi yang nyata memberi harga yang adil bagi petani dan konsumen. Hal ini terbukti dengan adanya mekanisme kenaikan harga yang melibatkan petani BSB agen dan konsumen secara bersama menetapkan dan memutuskan kemudian menyetujui harga yang pas bagi semua pihak. Jadi, inilah organis yang terbangun dalam gerakan Pertanian Organis BSB adalah terciptanya hubungan antar petani dan konsumen yang lebih akrab dan bersahabat dalam kerangka keadilan dan beradab. (dr)

Artikel Terkait
comments powered by Disqus