Berita Dari Opini

Revolusi Mental


         Ketika anda membaca buku “Merevolusi Revolusi Hijau” yang disusun oleh Dewan Guru Besar IPB, istilah revolusi memberi gambaran pembaca, akan ada sesuatu yang “besar” terjadi. Revolusi hijau yang “direvolusi” tentulah menuju pertanian yang berlawanan yaitu menuju Pertanian Organis. Anda siap kecewa, buku itu tetap rohnya sama dengan revolusi hijau karena yang direvolusi tentang revolusi produksi bahkan cenderung ke arah revolusi bidang rekayasa genetika. Bagaimana pertanian ke depan, lebih produktif, meskipun pelestarian lingkungan tetap menjadi perhatian. Tidak ada larangan penggunaan Agrokimia tapi ada revolusi di bidang mikrobiologi. Buku ini tidak dimaksudkan untuk mendorong ke arah pertanian organis.

            Berbicara revolusi mental di bidang pertanian, pastilah terkait dengan visi pertanian dan pelaku pertanian (petani, pedagang, konsumen, dan pemerhati pertanian). Setiap pelaku pertanian paham bahwa sumber kehidupan terletak dalam lingkup pertanian, petani – bukan untuk cari untung sebanyaknya tapi harapan masa depan yang lebih aman. Revolusi adalah berpikir bahwa tidak boleh segala hal yang bisa membahayakan alam sebagai dasar hidup dipergunakan dalam proses budidaya pertanian. Kesalahan manusia mengizinkan bahan berbahaya (pestisida) bebas dijual di pasaran. Jelas bahan berbahaya dengan mudah didapat dan dipergunakan.

            Petani seharusnya merubah sikap pragmatis dan pasrah tapi lebih melihat kemandirian yang sejati. Petani memiliki lahan, keterampilan dan jaring penjualan. Pedagang janganlah egois tapi melihat hubungannya dengan petani dan konsumen, pedagang harus memiliki keyakinan maju bersama. Konsumen jangan pasif tapi lebih aktif bersaudara dengan petani. Tinggalkan pameo “pembeli adalah raja”, menjadi partner petani. Sesungguhkan konsumen sangat tergantung apa yang dibuat petani, maka patutlah untuk kerja sama.

            Berbicara tentang perekonomian, sesungguhnya kita sudah terperangkap dalam ekonomi kapitalis, semua sektor ekonomi sudah dikuasai para kapital. Dan secara sistematis masyarakat hidup dalam alam yang sangat kapitalistik. Seperti produk instan, iklan yang intensif, real estated  yang modern, dokter dan farmasi yang mahal dan gaya hidup boros. Revolusi ekonomi bisa terjadi kalau ekonomi kerakyatan sungguh bisa diterapkan... Tapi tidak mudah. Apakah kita berani hidup “hemat”, berani mempertanggungjawabkan keuangan rumah tangga tanpa dituntut yang lain, beranikah kita mempertanyakan penggunaan uang. Dalam konteks hidup BSB, sesungguhnya revolusi mental sudah diajarkan dalam hidup sehari-hari, seperti sistem unit asrama, sistem UB simpan pinjam, bahkan KB-2 (Cara Catat) telah diajarkan bagaimana pembukuan keuangan rumah tangga, pembelajaran sistem menabung untuk tujuan, tertentu. Bahkan di bidang pertanian, anggota BSB diajak untuk memahami visi pertanian dengan memperdalam Theologi Pertanian dan Filosofi Pertanian.
 
               BSB kurang menyadari revolusi mental di bidang pertanian dan perekonomian yang sebenarnya sudah dirintis 30 tahun yang lalu, yang telah mempersiapkan mental bagi anggotanya agar bisa tetap “survive” di tengah terpaan kapitalisme. Arahnya sudah benar hanya tantangannya semakin besar, bisakah menerobos menjadi pioner atau hanyut ditelan arus. Bersama kita bisa! Salam. (dr)

Artikel Terkait
comments powered by Disqus