Berita Dari Opini

Revolusi Mental : Sikap dan Keteladanan


         Pater Agatho mendirikan BSB sejak 7 Mei 1984, sebelumnya telah bergumul dengan persoalan pembangunan manusia melalui pendidikan SD dan SMP di Sanggau, Kalimantan Barat. Pater membuat revolusi dengan pandangan murid tidak cukup hanya belajar tapi harus bekerja: Bagaimana Pater Agatho sibuk dengan mengajar di kelas kemudian mengolah berbagai keterampilan seperti mengolah karet dan pertukangan. Pada saat itu, pater sudah memberi teladan kepada murid-murid SD dan SMP untuk belajar sambil bekerja. Hidup itu belajar seumur hidup.

         Ketika pater tidak lagi bersentuhan dengan murid (sekolah) dan harus terjun dalam kegiatan pertanian dalam “proyek” BSB. Polanya berubah, beliau memberi teladan bagaimana manusia (staf) harus bertumbuh dalam maunya yayasan. Pagi hingga sore kegiatan di kebun untuk membuat penelitian tanaman dan malam harinya pelajaran di ruang kelas. Pertumbuhan keterampilan dilakukan dalam praktik bertani, tetapi peningkatan pengetahuan dan pemahaman  sikap dan perilaku diajarkan pada malam hari.
           
         Cara berpikir bahwa manusia bertumbuh holistik diperlihatkan dalam simbol BSB dengan lingkaran panah ke atas. Pater berharap para stafnya memiliki keyakinan, kesadaran penuh tentang cara hidup yang organis. Hal ini dia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, teristimewa sikap terhadap barang dan sesama. Bagaimana memanen wortel yang baik, memulsa yang efektif bahkan memperlakukan batu, semen, kayu. Bagaimana menggunakan air untuk mandi, benda-benda bekas untuk dikumpulkan dan secara kreatif dimanfaatkan untuk sarana permainan anak. Pater melakukan itu untuk memberi contoh konkrit yang seharusnya dilakukan oleh semua orang yang organis. Dalam bekerja selalu ditekankan mengenai rencana kerja harian, catatan yang konsisten, dilarang menyembunyikan hal yang salah, didorong dan dilatih untuk berkomunikasi dengan PR-OUT, diskusi dan konsultasi untuk mencari solusi. Hidup bekerja seperti bermain bersama, meskipun suasananya menjadi sunyi atau tegang.

         Revolusi mental terjadi ketika setiap orang menyadari sebenarnya apa yang ingin pater tunjukkan dengan kejadian/ ide baru/ dalam kemarahannya, dan itu berlaku untuk semua level baik pimpinan, kepala bidang maupun pekerja harian. Keteladanan sering menjadi “beban” bagi semua karena tuntutan yang harus dilakukan seolah harus persis sama, padahal yang bisa kita lakukan hanyalah konsisten pada arah yang benar dalam berproses (jatuh-bangun). Sikap konsisten pada keyakinan dan kesepakatan bersama lebih utama daripada mengutamakan target yang belum tentu sesuai.

         Pertanyaannya: Apakah keteladanan pater dalam organis masih relevan dengan kemajuan zaman khususnya kemajuan komunikasi dan teknologi modern? Apakah keteladanan masih berlaku, masih efektif pada masa kini? Apakah perilaku teladan masih sesuai dengan kemajuan masa kini atau justru menghambat seperti yang terjadi di Jepang? (Harmony culture error, seniority error, old nation error)?

         Pada akhirnya, kita sebagai anggota BSB perlu merenungkan pada bagian mana sikap dan keteladanan Pater Agatho yang masih tetap menjadi spirit dalam membangun BSB pada era kini! Salam. (dr)

Artikel Terkait
comments powered by Disqus